Pages

Jumat, 29 Maret 2019

Begini Cara Tepat Jauhkan Penggunaan Gadget Berlebih Ketika di Rumah


Penggunaan smartphone, tablet, laptop, serta berbagai jenis gawai lain merupakan salah satu masalah yang biasa dialami di rumah. Pilihan orangtua atau anak untuk menggunakan smartphone di rumah bisa membuat waktu berkumpul bersama keluarga terbuang percuma.

Penggunaan gadget ini diketahui dapat membahayakan kesehatan, merusak pola tidur, darn mengganggu pola makan seseorang. Untuk mencegah dampak buruk yang bakal muncul, perlu dilakukan pembatasan penggunaan perangkat ini terutama pada anak ketika di rumah.

Dilansir dari Health24, American Academy of Pediatrics menyarankan sebuah pendekatan untuk menyeimbangkan penggunaan gawai ini. Panduan ini mengatur penggunaan gawai pada anak dan orangtua untuk menjaga hubungan baik di rumah serta kesehatan mereka.

Cara yang bisa diterapkan ini termasuk memilih area bebas layar di sekitar rumah seperti di ruang makan. Selain itu juga harus ada batasan waktu penggunaan gawai, kapan perangkat ini harus dimatikan serta tempat mengisi ulang daya ditetapkan.

Untuk menjaga pola tidur yang baik, seluruh anggota keluarga tidak diperbolehkan membawa smartphone ke kamar. Hal lain yang bisa dilakukan adalah hentikan penggunaannya setidaknya satu jam sebelum waktu tidur.

Kesehatan keluarga juga merupakan hal yang penting dijaga dan melakukan aktivitas seperti olahraga bisa menjauhkan dari penggunaan gadget. Olahraga yang tepat diketahui juga bisa membuat seseorang lebih mudah tertidur di malam hari. 

Jumat, 22 Maret 2019

Apa yang Bakal Terjadi Jika 'Tlusupan' Atau Serpihan Kayu Di Kulit Tak Dikeluarkan?


Masuknya potongan kayu kecil atau biasa disebut 'tlusupan' dalam bahasa Jawa merupakan hal yang sangat menyebalkan. Walau sangat kecil, hal ini bisa menimbulkan rasa sakit yang dalam dan menusuk.

Walau hanya kecil, membiarkan potongan kecil ini tetap di dalam tubuh bisa berakibat buruk. Dilansir dari Live Science, Ashley Jones dari The Ohio State University Wexner Medical Center menyebut bahwa tlusupan yang dibiarkan ini bisa berujung pada infeksi.

"Kulit merupakan pembatas fisik yang mencegah infeksi," ungkap Jones.

Hal ini membuat potongan kecil yang masuk ke dalam kulit ini membuat bakteri menjadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh. Bahkan bakteri ini mungkin sudah berada di dalam potongan kayu tersebut dan masuk ke dalam aliran darah.

Infeksi seperti ini biasanya disebabkan oleh bakteri tetanus. Ketika bakteri ini masuk ke dalam tubuh orang yang belum mendapat vaksin, maka dapat memunculkan racun yang menyerang sistem saraf.

"Saya sarankan agar jangan biarkan serpihan ini tidak dibiarkan begitu saja," ungkap Jones.

Kamu bisa mengeluarkan serpihan ini sendiri baik dengan tangan atau menggunakan alat bantu. Namun jika kesulitan, kamu juga bisa meminta bantuan tenaga medis untuk melakukannya.

Jika serpihan ini tidak dikeluarkan, tubuh memang tak bakal menyerap atau mencerna serpihan tersebut. Alih-alih, tubuh disebut bakal mendorong serpihan itu keluar.

Serpihan ini mungkin menyebabkan reaksi peradangan yang mungkin dapat menyebabkan bengkak dan kemerahan di area tersebut. Lebih lanjut, mungkin keluar nanah untuk mengeluarkan serpihan ini.

Ketika peradangan terjadi selama beberapa hari atau minggu, bagian ini mungkin bisa tumbuh menjadi benjolan permanen atau kadang disebut granuloma. Hal ini merupakan benjolan pelindung sel imun yang melindungi tubuh dari objek asing.

Terkadang, tubuh bisa mengeluarkan serpihan ini secara alami dari kulit tanpa menimbulkan respons peradangan. Namun pada kondisi lain, serpihan ini bisa berada di dalam tubuh selamanya.

Walau pada banyak kasus hal ini tidak berbahaya, namun sebaiknya kamu tetap perhatikan hal ini. Pada orang tua dan anak-anak, jika mengalami hal ini maka segera periksakan diri ke dokter.

Jumat, 15 Maret 2019

Sejumlah Hal yang Harus Diketahui dari Penggunaan Botol untuk Minum Sehari-Hari


Kesadaran akan lingkungan yang meningkat membuat banyak orang kini membawa botol minum sendiri ke mana pun dia pergi. Tindakan ini diharap mampu mengurangi sampah plastik atau bahan lain sekali pakai.

Walau lebih ramah lingkungan, jika tak berhati-hati, penggunaan botol berulang ini bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Baik wadah maupun air yang di dalamnya bisa jadi membahayakan jika tidak hati-hati.

Dilansir dari Times of India, disebut bakal muncul kuman termasuk bakteri, jamur, dan virus yang ada di botol ini. Menurut mukrobiologis dari William Paterson University, kuman ini dapat mencemari air pada botol yang kita gunakan terlebih ketika tutup dari botol tersebut terbuka.

Bagaimana Cara Persebaran Kuman Ini?

Ketika kamu meminum air dari botol, air tersebut bakal terkena mulut dan bibirmu. Partikel makanan dari mulut dapat masuk ke air yang kemudian bisa masuk ke dalamnya jika tak dibersihkan dengan tepat.

oleh karena itu, sebaiknya kamu tidak berbagi botol dengan orang lain dan satu botol hanya digunakan untuk satu orang. Berbagi botol juga bakal sangat riskan ketika seseorang sedang sakit.

Tempat kamu meletakkan botol juga harus sangat diperhatikan. Lingkungan yang lembap bisa mendorong tumbuhnya bakteri terutama pada botol bening. Mikroba sangat suka tinggal di botol dan tempat yang memiliki temperatur hangat.

Risiko Minum dari Botol Terkontaminasi

Botol air yang terkontaminasi dapat menyebarkan masalah kesehatan yang bisa menular ke orang lain. Masalah kesehatan ini termasuk flu dan demam serta infeksi umum dan serius lainnya.

Walau begitu, tak berarti bahwa semua bakteri yang masuk ke tubuh ini bakal membuat kamu sakit. Paparan dari mikroba baru ini dapat meningkatkan risikomu menjadi sakit.

Seberapa Sering Kamu Harus Mencuci Botol?

Disarankan untuk setidaknya mencuci botol sekali setiap hari. Biasakan untuk mengosongkan botolmu setiap hari lalu mencucinya dengan air dan sabun. Pada esok harinya, isi dengan air yang baru dan jangan mencampur air baru dan lama. 

Jumat, 08 Maret 2019

Bertambahnya Besarnya Perut Bisa Tingkatkan Masalah Kesuburan pada Pria


Menjaga berat badan ideal bukan hanya sebuah hal yang penting bagi wanita namun juga bagi pria. Sebuah penelitian terbaru mengungkap sebuah temuan yang cukup penting mengenai menjaga berat badan bagi pria ini.

Dilansir dari Medical Daily, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kelebihan berat badan bisa berpengaruh terhadap kesuburan pria. Temuan ini tentu sangat mengejutkan dan menjadi perhatian bagi pria untuk menerapkan berat badan yang ideal bagi diri mereka.

Beberapa tahun belakangan, pakar kesehatan telah menggarisbawahi hubungan potensial dari bertambahnya lemak dan masalah kesuburan. Selama seabad terakhir, pria telah menunjukkan gejala semakin memburuknya kualitas sperma.

Hingga sekarang, pria disebut terlibat dalam 50 persen kasus sulitnya pasangan untuk mendapat kehamilan. Jumlah ini identik dengan meningkatnya jumlah pria kelebihan berat badan di seluruh dunia.

"Kemungkinan penyebab menurunnya parameter kesuburan disebabkan karena perubahan gaya hidup yang cepat, perubahan aktivitas fisik, dan kebiasaan makan beserta sejumlah faktor lain," ungkap Kristel Ehala-Aleksejev dari Tartu University Hospital Men's Clinic.

"Gaya hidup kebarat-baratan merupakan penyebab bertambahnya berat badan yang juga merupakan masalah di antara pria Estonia," sambungnya.

Aleksejev juga melihat apakah ada penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan antara menurunnya kesuburan dengan obesitas. Dari semua penelitian yang ditemukan, semua hasil temuan cenderung menyetujui anggapan bahwa meningkatnya berat badan dapat memiliki efek negatif pada tingkat testosteron.

"Pada pasien yang berkonsultasi andrologi, kami sering menemui hubungan antara berat badan dan kesuburan. Sebuah faktor penting pada pria adalah menimbunnya lemak di bagian perut," terang Aleksejev.

Obesitas dan timbunan lemak di perut ini membuat pria memiliki risiko kehilangan kesuburan lebih tinggi. Peneliti menyebut bahwa kondisi ini muncul karena kondisi kestabilan hormon yang bisa berujung pada masalah ereksi.

Pada penelitian ini, Aleksejev mempelajari kesehatan dari pria subur dan pasangan yang tak subur. Hasil menunjukkan bahwa pria yang memiliki masalah kesuburan cenderung memiliki timbunan pada lemak serta masalah metabolisme.

Kedua kelompok yang diteliti diketahui terpengaruh dengan masalah perut buncit. Pria dengan testikel yang kecil lebih terpengaruh dengan meningkatnya berat badan dan timbunan lemak di perut.

Aleksejev menyarankan agar pria selalu dalam kondisi aktif secara fisik serta berolahraga untuk terhindar dari kegemukan. Dia menyebut bahwa pola makan juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap risiko ini.

Mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, dan produk biji-bijian bisa membantu menjaga berat badan sehat. Selain itu, sebaiknya hindari juga kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol serta perhatikan kesehatan mental dan hindari stres.

Sabtu, 02 Maret 2019

Frekuensi Makin Terbatas, Mastel Sebut Tantangan Pemerintah Semakin Berat


Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Kristiono mengatakan, ke depan tantangan pemerintah 5 tahun mendatang akan sangat berat. Terutama soal frekuensi.

Menurutnya, tugas berat pemerintah mendatang adalah bagaimana mengatur keterbatasan frekuensi yang saat ini dimiliki.

"Tantangannya pemerintah 5 tahun mendatang itu luar biasa. Bagaimana pemerintah mampu memanajemeni supaya spektrum ini optimum. Bagaimana yang belum terpakai dipakai, yang sudah dipakai bagaimana digunakan dengan cara yang lebih efisien. Karena 5 tahun ke depan 5G sudah ada. Nah, ini yang perlu dipikirkan," jelasnya usai acara Mastel di Jakarta.

Tidak dimungkiri, kata dia, saat ini frekuensi yang notabene sebagai sumber daya bagi operator seluler semakin terbatas. Maka itu, pemerintah ke depan harus melakukan sesuatu. Sebagai contohnya, misalnya. Di tengah kepadatan frekuensi sudah semestinya ada generasi yang harus dihapus.

"3G misalnya. Ini tidak efisien. Karena 3G terlalu makan lebar frekuensi dan tingkat efisiensinya rendah. Ke depan mestinya kalau availability spektrum makin terbatas, harus ada frekuensi yang dibuang," ungkapnya.

Meski begitu, ini juga harus dipikirkan matang dan dikalkulasi. Sebab 3G termasuk investasi baru, kalau mau dibuang, itu bagi operator seluler masalah besar. Tetapi perlu diakui penggunaan frekuensi 3G ini tidak efisien. Apalagi, akan menghadapi 5G ke depannya yang pasti membutuhkan frekuensi lagi.

"Mungkin bisa saja, katakanlah 3-4 tahun mendatang 3G bisa dihapus. Nantinya ex-frekuensi bisa dipakai 4G," katanya.

Sementara, kata dia, untuk 2G tidak ada masalah untuk dipertahankan meski generasi tua. Karena umumnya 2G berada di frekuensi yang rendah dan cocok untuk daerah-daerah rural maupun sub-urban area.