Pages

Sabtu, 02 Maret 2019

Frekuensi Makin Terbatas, Mastel Sebut Tantangan Pemerintah Semakin Berat


Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Kristiono mengatakan, ke depan tantangan pemerintah 5 tahun mendatang akan sangat berat. Terutama soal frekuensi.

Menurutnya, tugas berat pemerintah mendatang adalah bagaimana mengatur keterbatasan frekuensi yang saat ini dimiliki.

"Tantangannya pemerintah 5 tahun mendatang itu luar biasa. Bagaimana pemerintah mampu memanajemeni supaya spektrum ini optimum. Bagaimana yang belum terpakai dipakai, yang sudah dipakai bagaimana digunakan dengan cara yang lebih efisien. Karena 5 tahun ke depan 5G sudah ada. Nah, ini yang perlu dipikirkan," jelasnya usai acara Mastel di Jakarta.

Tidak dimungkiri, kata dia, saat ini frekuensi yang notabene sebagai sumber daya bagi operator seluler semakin terbatas. Maka itu, pemerintah ke depan harus melakukan sesuatu. Sebagai contohnya, misalnya. Di tengah kepadatan frekuensi sudah semestinya ada generasi yang harus dihapus.

"3G misalnya. Ini tidak efisien. Karena 3G terlalu makan lebar frekuensi dan tingkat efisiensinya rendah. Ke depan mestinya kalau availability spektrum makin terbatas, harus ada frekuensi yang dibuang," ungkapnya.

Meski begitu, ini juga harus dipikirkan matang dan dikalkulasi. Sebab 3G termasuk investasi baru, kalau mau dibuang, itu bagi operator seluler masalah besar. Tetapi perlu diakui penggunaan frekuensi 3G ini tidak efisien. Apalagi, akan menghadapi 5G ke depannya yang pasti membutuhkan frekuensi lagi.

"Mungkin bisa saja, katakanlah 3-4 tahun mendatang 3G bisa dihapus. Nantinya ex-frekuensi bisa dipakai 4G," katanya.

Sementara, kata dia, untuk 2G tidak ada masalah untuk dipertahankan meski generasi tua. Karena umumnya 2G berada di frekuensi yang rendah dan cocok untuk daerah-daerah rural maupun sub-urban area. 

0 komentar:

Posting Komentar