Pages

Selasa, 12 Mei 2020

Nissa Wargadipura, Ajak Santri Sadar Pangan di Pesantren Ekologi


Pada zaman sekarang, tak begitu banyak orang tua yang memberikan sedikit saja pemahaman tentang pertanian kepada anaknya. Asupan teknologi dianggap lebih mentereng, serta tentunya dianggap lebih dibutuhkan oleh sang anak nantinya. Hal berbeda dilakukan Nissa Wargadipura, yang malah mendirikan pesantren ekologi untuk mengajarkan sadar pangan bagi anak didiknya.

Ide Cemerlang yang Berawal dari Sebentuk Kegelisahan 

Bagi Nissa Wargadipura, pesantren modern yang banyak berdiri saat ini, sama sekali berbeda jauh dengan kehidupan pesantren yang dilaluinya dulu. Bagaimana tidak, santri di kebanyakan pesantren modern hanya tinggal menikmati fasilitas yang telah disediakan. Hal ini pun menurut Nissa Wargadipura membuat santri jadi pasif dan tentunya tak bisa mengembangkan diri. 

Berangkat dari kegelisahannya ini, Nissa pun menggagas berdirinya Pesantren Ekologi At-Thariq, di Desa Cimurugul, Garut, Jawa Barat. Berangkat dari pengalamannya berkebun, bertani, serta memelihara ikan saat nyantri dulu, ia pun mengawinkan konsep spiritual dan ekologi di pesantren ini. Alhasil, hadirlah pesantren modern dengan konsep yang lebih kreatif. 

Belajar Bercocok Tanam di Pesantren Ekologi

Bagi Nissa Wargadipura, kemampuan santri tak terbatas hanya pada bisa berdakwah atau pun berpidato di depan umum. Santri seharusnya juga punya pengetahuan akan potensi lokal yang dimiliki daerahnya, khususnya potensi di bidang pangan. Makanya, Nissa pun begitu bersemangat membantu para santrinya mengeksplorasi diri, dengan membimbingnya bercocok tanam. 

Pesantren yang menjadikan bertani sebagai ideologinya ini, mengajak santrinya untuk aktif bercocok tanam. Santri yang dididik di pesantren ini, akan diajarkan cara bercocok tanam, memanennya, serta mengolah hasil panen tersebut jadi makanan. Semua proses ini dilakukan di area sawah, kebun, kandang, dan kolam yang termasuk dalam kawasan pesantren ekologi ini. 

Adanya pendidikan ekologi yang diajarkan, diharapkan Nissa bisa membuat santrinya mengetahui gizi serta khasiat makanan yang diolah. Santri pun diajarkan mandiri, karena mereka harus terlibat langsung, mulai dari proses penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bagi Nissa, ilmu ini begitu penting bagi setiap orang, khususnya santri, yang menempati negara agraris ini. 

Tak hanya untuk bahan makanan saja, sistem pendidikan di pesantren ekologi juga mengenalkan pada para santrinya beragam jenis pengobatan tradisional herba. Makanya, tak mengherankan jika saat ini para santri di pesantren ekologi ini sudah punya 15 jenis budi daya teh herbanya sendiri. Satu dari banyaknya harapan Nissa adalah munculnya kader baru petani muda di negeri ini lewat pesantrennya. 

Hingga saat ini, pesantren ekologi yang telah berdiri sejak tahun 2008 ini sudah mencetak lebih dari 700 alumni. Sebagai dari alumni bahkan ada juga yang mendirikan pesantren, dengan cara didik seperti di Pesantren Ekologi At-Thariq ini. Semakin banyak pesantren dengan landasan ideologi yang sama, tentu membuat makin banyak generasi muda yang sadar pangan.  

Apresiasi atas Dedikasi Nissa Wargadipura

Saat generasi muda negeri ini kurang peduli pada masalah pertanian, Nissa hadir dengan solusi kreatifnya berupa pesantren ekologi. Pesantren ekologi ini bahkan menggratiskan pendidikan bagi santrinya yang kurang mampu. Atas dedikasinya ini, wajar rasanya jika Nissa diganjar dengan penghargaan, berupa kesempatan umroh gratis dari kampanye #AwaliDenganKebaikan Allianz. 

Allianz, penyedia asuransi syariah Indonesia, memang tak hanya fokus pada produk asuransi syariah yang dihadirkannya saja. Allianz tahu betul bahwa para tokoh inspiratif seperti Nissa Wargadipura pantas diberi apresiasi. Makanya, lewat kampanye #AwaliDenganKebaikan ini, terselip pesan untuk tetap jadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, layaknya Nissa Wargadipura.