Pages

Senin, 28 Juni 2021

Inovasi The Executive Indonesia Menuju Pasar Internasional


Siapa sangka kalau The Executive Indonesia adalah merek yang berasal dari Indonesia. Tidak diragukan lagi memang karena merek fashion ini telah berhasil merambah negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Indonesia. Pada masa kemunculan awal, produk-produknya banyak dicari oleh para eksekutif pria di Indonesia. Mereka yang bekerja kantoran memilih untuk tampil rapi dan celana pria merek The Executive Indonesia selalu jadi pilihan.

Bahkan berdasarkan survei Indonesia Original Brand (IOB) pada 2014 lalu, The Executive berhasil menjadi busana kerja yang banyak diminati kaum pria. Apalagi merek yang sudah tersedia dibanyak gerai mall itu tak berhenti untuk melakukan inovasi desain yang kekinian sesuai perkembangan zaman. Saat ini The Executive sudah menghasilkan produk fashion yang tak kalah bagusnya untuk para wanita. Merek yang banyak menyebar di mall di Indonesia ini juga mendagangkan aksesoris, tas, dan dompet untuk para eksekutif tanah air.

Didirikan pada tahun 1979 oleh Mr Johanes Farial, PT. Delami Garment Industries menandai awal dalam fashion dan industri manufaktur dengan memproduksi celana panjang pria untuk pasar domestik di bawah nama merek WOOD dan John Far. Pada tahun 1984, perusahaan mengambil alih merek Executive 99, pada saat itu sebagai pemimpin pasar dalam kategori celana pria. Ini langkah cerdas melihat perluasan PT. Delami menjadi salah satu produsen terkemuka di Indonesia.

The Executive atau yang lebih dikenal dengan Executive 99 menyediakan berbagai pakaian resmi pria dan wanita dengan berbagai apparel pendukungnya, dengan model, potongan baju dan celana yang anggun dan menawan serta pemakaian bahan yang lembut serta nyaman di pakai.

Untuk kategori kemeja pria dalam survei Indonesia Original Brand (IOB) , The Executive menjadi juaranya. Tidak hanya dari tingkat kepuasan, loyalitas dan advokasi konsumennya, The Executive memiliki nilai yang baik pula dalam parameter foreign local comparison (FLC). Merek ini dinilai mampu bersaing dengan merek-merek asing.

Namun sebetulnya, merek di bawah Delamibrands ini tidak hanya mengandalkan kemeja sebagai bisnisnya, terlebih kemeja khusus pria. Karena, merek yang dulu bernama Executive99, ini juga mengembangkan produk untuk kategori Ladies, yang juga sukses di pasar. Produk The Executive pun kemudian tidak hanya untuk pakaian formal, tetapi berkembang pula untuk jenis pakaian lainnya hingga saat ini menjadi lifestyle brand.

Bagaimana The Executive menjadi terus berkembang?

Seperti apa strateginya dan bagaimana perkembangan bisnisnya?

Simak penuturan Rita Zulkaidarati, Brand Manager dan Boysanto Pasaribu, Direktur Marketing The Executive kepada Rif’atul Mahmudah dari SWA Online:

Bagaimana strategi membuat konsumen terus loyal (akan terus menggunakan produk tsb)? Apa saja daya pikatnya?

Menjaga kualitas. Kalau kita lihat produk internasional, kami tidak kalah, tetapi kami dengan harga yang lebih terjangkau. Rata-rata Rp250-300 ribu. Tetapi memang ada juga suit untuk pria yang sampai Rp 2 juta. Produk kami terjangkau tetapi kualitas ekspor dan mengikuti fashion trends.

Bagaimana strategi membuat konsumen mau merekomendasikan produk kepada orang lain?

Banyak sih. Kami punya strategi di Marcom. Peran mereka sangat kuat. Kami juga ada kolaborasi dengan pihak luar, terutama media, baik online maupun offline. Kami pun ada event dengan mengundang komunitas, dengan adanya event, kami bisa memperkenalkan The Executive ke kalangan yang belum terjamah.

Apa keunikan produk, difrensiasinya, keunggulannya, aneka ragamnya, inovasinya dari waktu ke waktu?

Sebetulnya uniqueness kami kalau boleh dikatakan di pants untuk men. Untuk ladies, kami punya produk unggulan yang bisa ditampilkan, karena sejarahnya memang kami pemain ulung di pants. Factory kami juga mengerjakan ekspor pants. Kualitasnya sangat terjaga baik di men maupun ladies. Salah satu keunikan kami di sini, konsistensinya juga kami jaga. Baik dari bahan maupun fitting.

Siapa target pasarnya?

Profesional muda. Usia utamanya 23-32 tahun. Fokus kami di situ. Tetapi tidak menutup kemungkinan di bawah 23 tahun atau di atas 32 tahun, karena variasinya bisa untuk di luar range tersebut juga.

Bagaimana distribusinya di Indonesia, penyebarannya?

Saat ini jumlah showroom kami ada 80 dan jumlah 250 counters. Untuk showrooms ada di kota-kota besar. Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Balikpapan, Makasar, Manado, Palembang dsb. Kami masih akan buka showroom lagi di semester kedua ini 5-6 showroom lagi. September di Living World, di Grand Kawanua-Manado. Oktober-Desember ada lagi.

Bagaimana ekspornya, ke negara mana saja, berapa nilai ekspornya?

Rita : Kami punya perwakilan di Malaysia. Kami punya 4 showrooms dan 22 counters di Malaysia. Sudah ada permintaan dari negara ASEAN lainnya, tetapi karena keterbatasan, kami cukupkan di Malaysia dulu.

Boysanto : Bisnis kami di Malaysia kecil nilainya, hanya 2% saja dari total keseluruhan. Pasar lokal masih besar potensinya.

0 komentar:

Posting Komentar